Bisnis Kuliner Tradisional
Melirik Bisnis Seblak dan Aci Ternyata Banjir Omzet Saat di Musim Hujan
Bisnis kuliner tradisional tak pernah lekang oleh zaman. Jajanan seblak dan aci misalnya, masih mampu bertahan dan tetap eksis hingga sekarang. Cita rasanya yang pedas gurih membuat para penikmatnya selalu kangen untuk menjajal kudapan ini lagi dan lagi. Jika dulu seblak dan aci banyak ditemui di daerah kampus, kini kedua kuliner tradisional tersebut sudah merambah dunia restoran. Ya, para pemain besar seperti restoran dan kafe mulai menyajikan seblak dan aci sebagai menu utama merekaRp. 3.495.000. Modal tersebut digunakan untuk membeli kompor dan gas Rp. 300.000, blender Rp. 125.000, panci Rp. 100.000, wajan Rp. 170.000, pengaduk pisau Rp. 60.000. Kemudian, meja dan kursi Rp. 250.000, peralatan makan dan minum Rp. 30.000, gerobak Rp. 1.900.000, dan peralatan tambahan lain Rp. 160.000 – Rp. 400.000. Sedangkan per bulannya membutuhkan biaya untuk membeli bahan baku seperti kerupuk Rp. 450.000, bakso dan sosis Rp. 600.000, kantong plastik Rp. 150.000, dan aneka bumbu Rp. 360.000. Lalu, ada pula tambahan biaya sewa tempat per bulan Rp. 300.000 serta retribusi Rp. 50.000. Jadi total membutuhkan dana sekitar Rp. 1.910.000. Dengan harga per porsi Rp. 5.000 dan setiap harinya bisa terjual 20 porsi maka pendapatan kotor yang bisa didapat dalam kurun waktu satu bulan sebesar Rp. 3.000.000.

Komentar
Posting Komentar